PKBM PLS UPI

Ayo belajar … !!

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 4/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills)

Bagian IV (dari 5 bagian)

Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Salah satu aktivitas PKBM/LifeskillsPendidikan kecakapan hidup (life skills) sebagai salah satu satuan program dari pendidikan nonformal memiliki peran yang urgen dalam rangka membekali warga belajar agar dapat hidup secara mandiri. Ditjen PLS Depdiknas dalam Pedoman Program Life Skills (2007 : 2) menggambarkan bahwa program pendidikan kecakapan hidup ini secara khusus bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik agar : 1) Memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam memasuki dunia kerja baik bekerja secara mandiri (wirausaha) dan/atau bekerja pada suatu perusahaan produksi/jasa dengan penghasilan yang semakin layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, 2) Memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi serta dapat menghasilkan karya-karya yang unggul dan mampu bersaing di pasar global, 3) Memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pendidikan untuk dirinya sendiri maupun untuk anggota keluarganya, 4) Memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dalam rangka mewujudkan keadilan pendidikan di setiap lapisan masyarakat.

Program pendidikan kecakapan hidup sebagai salah satu bagian dari pembangunan berkelanjutan (sebagai strategi) menghendaki pengelolaan semua kekayaan yang berupa Sumber Daya Alam (SDA), tenaga, manusia, keuangan dan fisik digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Sehingga peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dapat terlihat dari kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud adalah merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon, dan hal inilah yang menjadi salah satu tolak ukur melihat perubahan sikap yang terjadi pada individu tersebut.

Secara kelas, kuantitas dari kalangan masyarakat ekonomi bawah di Indonesia masih sangat tinggi, hal ini bisa dilihat dari jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan yang menunjukkan angka 80 juta orang serta jumlah pengangguran tahun 2001 sebanyak 36,9 juta orang (8%) dan angka ini akan terus semakin bertambah setiap tahunnya (Ditjen PLSP : 2003 : 4).

Hal ini diperkuat dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat yang telah melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan pada Juli 2005, dimana jumlah penduduk miskin sebanyak 5,14 juta orang atau 13,06% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut naik menjadi 5,46 juta orang atau 13,55% dari jumlah penduduk, pada Maret 2007 (Koran Sindo, 02/08/07).

Melalui kegiatan pelatihan diharapkan dapat diatasi ketimpangan antara keadaan saat ini (jumlah pengangguran) dengan keadaan yang diharapkan di masa mendatang (berkurangnya jumlah pengangguran). Bagi individu kegiatan pelatihan yang diikuti diharapkan akan dapat mengatasi kekurangan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dengan persyaratan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki baik untuk bekerja pada suatu lembaga atau perusahaan untuk mengadakan kegiatan mandiri berupa wiraswasta dan lain sebagainya

Iklan

Februari 6, 2008 - Posted by | Life Skills

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: